Picsum ID: 1066
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 22-23 September 2026. Keputusan ini diambil di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang belakangan melemah mendekati level Rp17.900 per dolar AS.
Baca juga: Aturan Aset Kripto Baru OJK Berlaku September 2026, Ini yang Berubah untuk Investor
Bagi masyarakat umum, keputusan suku bunga mungkin terdengar teknis. Namun, dampaknya sebenarnya terasa dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bunga kredit hingga imbal hasil tabungan. Berikut penjelasannya.
Fokus utama BI saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menahan suku bunga pada level yang relatif tinggi membantu menjaga daya tarik aset dalam negeri bagi investor asing, sehingga aliran modal tetap terjaga dan tekanan terhadap rupiah bisa diredam.
Sejumlah ekonom memperkirakan BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen, sambil menggunakan instrumen lain untuk menjaga stabilitas. Pendekatan ini dianggap lebih hati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kecenderungan bank sentral dunia yang juga menahan kebijakannya.
Dengan suku bunga acuan yang bertahan, suku bunga kredit perbankan cenderung tidak mengalami penurunan dalam waktu dekat. Bagi kamu yang punya rencana mengambil kredit, baik itu kredit pemilikan rumah maupun kredit usaha, ada baiknya memperhitungkan cicilan dengan lebih matang, karena bunga masih berada di level yang relatif tinggi.
Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi pengingat untuk tidak menambah utang konsumtif jika tidak benar-benar diperlukan.
Bagi penabung, suku bunga yang bertahan berarti imbal hasil deposito dan instrumen pasar uang masih relatif menarik. Instrumen berbunga rendah risiko seperti deposito atau Surat Berharga Negara ritel bisa menjadi pilihan untuk menyimpan dana sementara dengan imbal hasil yang stabil.
Sementara bagi investor, stabilitas suku bunga memberi sedikit kepastian. Namun, tetap penting untuk menyesuaikan strategi dengan kondisi global yang masih fluktuatif, terutama terkait pergerakan nilai tukar.
Terlepas dari arah kebijakan BI, yang terpenting adalah mengelola keuangan pribadi secara sehat. Pastikan dana darurat mencukupi, jaga rasio utang tetap wajar, dan pilih instrumen investasi sesuai tujuan serta profil risiko. Keputusan bank sentral hanyalah salah satu faktor; kedisiplinan mengelola uang adalah fondasi yang paling menentukan.
Sumber: Bisnis.com
Mengelola keuangan rumah tangga bukan perkara mudah, apalagi ketika pengeluaran harian terasa tidak pernah berhenti.…
Banyak orang mengira investasi hanya untuk mereka yang berpenghasilan besar, padahal kenyataannya kamu bisa memulainya…
Pensiun sering terasa jauh di masa depan, padahal justru karena itu persiapannya harus dimulai sedini…
Uang sering disebut sebagai salah satu penyebab utama konflik dalam rumah tangga, terutama di tahun-tahun…
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (22/10/2026) di zona hijau. Setelah sempat tertekan…
Menjadi orang tua tunggal berarti mengelola keuangan rumah tangga dengan satu sumber penghasilan sambil tetap…