Picsum ID: 293
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (18/9/2026). Sempat menguat di sesi pertama, indeks berbalik arah ke zona merah pada sesi kedua akibat tersengat sentimen pengetatan moneter global, khususnya kenaikan suku bunga acuan Bank of Japan (BoJ).
Baca juga: IHSG Anjlok 8 Persen dan Kena Trading Halt, Ini yang Perlu Dipahami Investor Ritel
Baca juga: Aturan Aset Kripto Baru OJK Berlaku September 2026, Ini yang Berubah untuk Investor
Baca juga: IHSG Melemah 7 Oktober, Analis Perkirakan Bisa Tembus 6.280
Baca juga: BEI Resmi Luncurkan Short Selling, Ini yang Perlu Dipahami Investor
Baca juga: IHSG Anjlok 1,69 Persen ke 6.277: Apa yang Perlu Dipahami Investor
Baca juga: IHSG Kembali Melemah ke 6.241: Apa yang Perlu Dipahami Investor Ritel
IHSG akhirnya tergerus 21,27 poin atau 0,33 persen ke level 6.441,16. Padahal saat pembukaan, indeks sempat melesat 50,14 poin (0,78 persen) ke posisi 6.512,57 didorong optimisme awal pelaku pasar, sebelum tekanan jual meluas di sesi kedua.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan pelemahan IHSG dipicu langkah tegas BoJ yang menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen. Langkah ini menyusul keputusan bank sentral AS, The Fed, yang lebih dulu menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen.
Kedua keputusan ini menegaskan tren pengetatan moneter global di tengah risiko inflasi yang masih tinggi. Suku bunga yang naik membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik dibanding instrumen berbunga, sehingga mendorong aksi jual.
Di sisi lain, perhatian pelaku pasar global juga tertuju pada rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada pekan depan. Meski ada harapan perbaikan hubungan bilateral dua raksasa ekonomi dunia, investor cenderung bersikap hati-hati akibat bayang-bayang sanksi dagang, tarif, dan ketegangan geopolitik.
Bagi investor ritel, pelemahan akibat kebijakan moneter global adalah bagian dari siklus yang normal. Yang terpenting adalah tidak panik dan tetap berpegang pada rencana investasi jangka panjang. Analis memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan fase konsolidasi pada awal pekan, yang dinilai sebagai titik jenuh sebelum indeks kembali bergerak naik.
Momen seperti ini justru bisa menjadi pengingat untuk mengevaluasi kembali alokasi aset dan memastikan dana darurat tetap aman sebelum berinvestasi di instrumen yang fluktuatif.
Sumber: Faktual Indonesia
Mengelola keuangan rumah tangga bukan perkara mudah, apalagi ketika pengeluaran harian terasa tidak pernah berhenti.…
Banyak orang mengira investasi hanya untuk mereka yang berpenghasilan besar, padahal kenyataannya kamu bisa memulainya…
Pensiun sering terasa jauh di masa depan, padahal justru karena itu persiapannya harus dimulai sedini…
Uang sering disebut sebagai salah satu penyebab utama konflik dalam rumah tangga, terutama di tahun-tahun…
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (22/10/2026) di zona hijau. Setelah sempat tertekan…
Menjadi orang tua tunggal berarti mengelola keuangan rumah tangga dengan satu sumber penghasilan sambil tetap…